Subscribe

Wednesday, 10 August 2011

PERBEDAAN ANTARA RUH ( NYAWA) DAN JIWA


PERBEDAAN  ANTARA RUH ( NYAWA)  DAN JIWA

Jawaban singkat adalah ruh dan jiwa adalah satu dan sama dan satu makhluk yang diciptakan Allah dan di tiupkan atau dimasukan kedalam tubu manusia.
jadi kenapa kadang kadang kita mengatakan ruh atau nyawa.dan kadang kadang kita mengatakan jiwa..jawaban nya adalah..dinamakan ruh karena kelembutan nya..dan dinamakan jiwa karena keterkaitannya dengan tubuh..

dan mereka (orang yahudi) menanyakan kepadamu (wahai Muhammad)  tentang ruh..katakanlah..! ruh itu sebahagian dari urusan tuhanku (ilmu tuhanku) dan tidak diberikan kepada kamu dari ilmu (ilmu ALlah) kecualihanyalah sedikit.

 
Ruh atau jiwa adalah bentuk nurani yang lembut dan hidup bagi zat nya juga bergerak menyusub dalam tubuh dan menyerab didalamnya. Ruh adalah ciptaan Allah dan ruh adalah perkara atau urusan Allah ta’ala..hanya Allah yang tau tentang ruh secara detail..Sebagaimana ketika yahudi menanyakan kepada nabi tentang yang menhidupkan badan..Allah memerintah Nabi untuk mengatakan kepada yahudi bahwa ruh adalah sebahagian dari urusan (ilmu ) Allah ta’ala..kalian tidak tahu tentang ruh.karna tidak diberikan ilmu kepada kalian kecuali hanyalah sedikit saja..ilmu manusia hanyalah sedikit apabila dibandingkan dengan ilmu Allah ta’la..sebagaimana yang telah diabadikan dalam surat Al –isra ‘ ayat 85
Maka manusia tidak mampu untuk mengetahui bentuk,wujud, dan hakikat ruh secara detail dan sebenarnya, karena ruh tersebut bukanlah dari jenis yang dapat kita saksikan dengan mata kepala kita.dan oleh karena itu ruh tidak bisa kita masukkan kedalam laboratorium penelitian, dan tidak bisa kita letakan dibawa kaca mikroskop, akan tetapi ruh tersebut dapat kita lihat bekas dan efeknya ketika ruh tersebut berada dialam tubuh, dan dapat kita rasakan bekas dari berpisahnya ruh dari badan ketika ruh kita dicabut oleh malaikat pencabut nyawa (‘izrail/ malek maweut).
Dan sesungguh nya kepahaman, Akal, pendengaran , penglihatan , dan bergerak dengan sengaja; tidak lah semua itu terwujud kecuali dengan ruh. Maka apabila ruh dicabut dari badan maka semua itu tidaklah akan terjadi..sungguh Allah telah menciptakan Bentuk atau badan Nabi Adam tetapi tidak lah ciptaan Allah tersebut bisa mendengar dan bisa melihat kecuali setelah ditiupkan ruh kedalam jasad atau badan nabi Adam…dialam surat Al Hijr ayat 29-30 ; setelah Allah mencipatakan Adam secara sempurna dan meniupkan atau menjalankan atau memasukkan ruh kedalam tubuh nabi Adam, maka selanjutnya Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersejud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan.maka selanjutkan semua malaikat tanpa kecuali bersujud semua nya kepada Adam…dan yg tidak mau bersujud hanyalah Iblis Laknatillah..
Dan pada hari kiamat nanti atau pada hari kebangkita ketika ruh dikembalikan kepada jasad masing masing..maka bangkitlah manusia hidup kembali , bisa melihat dan mendengar, sebagaimana manusia pernah hidup, dalam surat Azzumar ayat 68; bisa kita lihat ayat dan terjemahan nya bahwa ruh akan ditiupkan kembali kedalam tubuh manusia pada hari kebangkita dan tiba tiba manusia bangkit dan melihat.
Para ulama telah menjelaskan dan memberikan dalil dari Alquran dan Sunnah (Hadist) tentang bahwa ruh ditiupkan kepada Janin sebagaimana dalil dalil yang menyatakan bahwa ruh di tiupkan kedalam tubuh manusia dan dicabut kembali dari tabuh manusia. Dan selanjutnya ditiupkan kembali pada hari kebangkita..dan sungguh Allat ta’ala telah berfirman bahwa Allah ta’ala mewakilkan sebahagian malaikat untuk mencabut ruh hamba hamba Allah. Didalam surat Assajadah ayat 11 jelas Allah mengatakan bahwa “katakanlah bahwa mewafatkan kamu oleh malaikat malaikat maut yang telah diwakilkan bagimu” dan didalam Alquran juga tercantum bagaimana kondisi dan situasi ketika malaikat malaikat pencabut nyawa datang mencabut nyawa manusia. Dan keadaan manusia ketika sakaratul maut..dan ketika manusia merasakan bahwa dia akan berpisah dari dunia dan akan kembali kepada penciptanya.dan keadaan ketika kita merasakan bahwa badan kita akan berpisah dengan ruh yang selama ini selalu menemani kita dalam hidup didunia..bisa dilihat ayat dan terjemahan nya didalam surat Al-waqi’ah ayat  83-87, Alqiyamah 26-30 , Al ‘An ‘am  93 .
Selanjutnya didalam hadist yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim bahwa Nabi berkata kepada sahabat sahabat nya yang ketika itu para sahabat luput salat karena tidur.nabi berkata..sesungguh nya Allah mencabut ruh ruh kamu sebagaimana dia kehendaki dan mengembalikan ruh ruh kamu sebagaimana dia kehendaki” dan hadis nabi ketika Bilal mengatakan kepada nabi wahai rasulullah wahai utusan Allah ; Allah yang mengambil jiwaku dan jiwamu ,. Didalam surat Azzumar ayat 42 bahwa Allah mewafatkan jiwa jiwa ketika matinya baik diwaktu tidur maupun diwaktu tidak tidur..yang mati diwaktu ditidur dicabut oleh Allah jiwa nya ketika tidur.yang tidak mati ketika tidur akan di pending sampai waktu ajalnya..demikian kira kira makna yang dapat saya tangkap dari ayat tersebut…
            Dan sebuah hadist yang berkenaan dengan keadaan diwaktu nabi yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim dari nabi bahwa nabi apabila ingin tidur dan mau tidur nabi berkata..” dengan namamu wahai tuhanku ..aku merebahkan pinggirku dan dengan namamu aku mengangkat nya ( artinya dengan namu aku tidur dan dengan namu aku bangun) apa bila kamu mengambil jiwaku maka ampunilah dia dan sayangilah dia, dan apabila kamu melanjutkan jiwaku (tidak dicabut) maka jagalah dia dengan apa yang kamu jaga denganya pada hamba hambamu yang saleh..”
            Dan hadist yang diriwayatkan oleh bukhari dalam sahihnya “bahwa sesungguh nya para syuhada itu Allah menjadikan ruh ruh mereka bagaikan burung burung yang hijau yang bersuka ria di taman syurga dan kembali terbang ke bawah lampu lampu yang indah yang tergantung dibawah Arasy”  dan..
Hadist nabi lagi dengan sanad yang sahih.” Bahwa manusia apabila dicabut ruh nya maka malaikat berkata “ keluarlah wahai jiwa yang baik yang ada didalam tubuh yang baik” keluarkan dengan keadaan mendapatkan keridhaan dari Allah” dan apabila manusia yang keji mati maka malaikat tersebut akan mengatakan wahai jiwa yang keji yang ada didalam tubuh yang keji , keluarlah dengan mendapatkan murka dari Allah.
Dari arti hadis hadis yang tersebut di atas tadi.dapat kita simpulkan bahwa “
1.      yang dicabut ketika tidur dinamakan ruh dan dinamakan pula jiwa
2.      yang di naikkan ke langit dinamakan ruh juga dan dinamakan jiwa juga.
Akan tetapi ; dinamakan jiwa karena dipandang dari segi bersatu nya ruh dengan badan, dan dinamakan ruh kerana kelembutan nya dak dalam bentuk ruhani serta sesuatu yang sangat lembut sehingga kita pun tidak bisa melihatnya.
Karena lafadh ruh mengandung makna yang berarti lembut.

Selebih nya ada pula ruh dan jiwa yang diartikan dengan arti yang tidak tercantum diatas…yaitu dengan arti selain ruh yang bermakna ruh yang dicabut ketika mati.
Misalnya arti lain dari ruh adalah angina yang keluar dari badan dan angina yang masuk kedalam badan atau disebut dengan nafas  (ini menurut Ibnu Taimiyah) dan menurut ibnu taimiyah juga..ruh juga kadang diartikan sebagai asap yang keluar dari jantung ketika jantung tersebut di bedah..ini adalah ketika masa ibnu Taimiyah hal tersebut dinamakan oleh dokter arab atau disebutkan dengan kata “ruh” .
Namun arti tersebut bukan arti yang sesungguh nya atau hakikat..atau dinamakan arti menurut adat atau uruf atau juga bisa disebut arti majaz…
            Selanjutnya jiwa ( dalam bahasa arab di sebut Annafsu ..annafsu dalam bahasa Indonesia diartikan jiwa dan diartikan juga diri.) ;( nb: ruh juga bahasa arab” bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia maka disebut nyawa, atau langsung disebut dengan ruh sebagai kosa kata yang diambil dari bahasa arab dan dijadikan sebagai kosakata bahasa Indonesia)  …jiwa…;   jiwa kadang diartikan dengan diri sesuatu atau zat sesuatu dan ‘in nya sesuatu tersebut..misalnya dalam Alquran surat Attahrim ayat 6 ..Allah berfirman ..yang artinya kira kira “ jagalah diri diri kamu dan keluarga mu dari api neraka “ didalam ayat tersebut kita artika diri kita padahal lafad nya adalah anfus kata jamak dari annafsu yang berarti jiwa dan juga berarti diri yang sering diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.sementari bagi orang arab..dari awal hingga terakhir tulisan ini ..hanya ada dua lafadh yng perlu kita cermati yaitu lafadh ruh..dan lafadh annafsu (.ruh dan jiwa..) dan makan tadi adalah bukan makna jiwa yang sama dengan ruh..
            Makanya jiwa atau annafsu (dalam bahasa arab) dibagi ke beberapa macam..
  1. annafsul amarah bissuk ( jiwa /nafsu yang selalu terjebak dalam dosa dan tak pernah sadar serta bangga dengan dosa)
  2. nafsul lawwamah ( hamper sama dengan nafsu/ jiwa yang pertama akan tetapi dia sadar setelah melakukan dosa dan mencoba memperbaiki dirinya walaupun selalu terjebak dan selalu mengulangi dosa)
  3. nafsul mutmainnah ( adalah jiwa atau nafsu yang berada dalam lingkaran ridho Allah)

padahal jiwa manusia adalah satu tetapi apabila jiwa tersebut sudah dikaitkan dengan nafsu maka jiwa tersebut terbagi bagi menurut rendah dan tinggi nya dia mengikuti hawa nafsu nya.. dan kadang arti jiwa juga dikaitkan dengan sesuatu yang berkenaan dengan otak dan hati..misalnya saja apabila seseorang mengalami gangguang otak maka disebut dia orang gila atau penderita sakit jiwa..wallhu a’lam..

kesimpulan…apa perbedaan ruh dan nyawa dan jiwa?
Jawaban :  ruh dan nyawa dan jiwa adalah sama. apabila kita melihat perbedaan nya didalam Al-quran dan hadist maka kita akan mendapatkan bahwa kata ruh dapat kita artikan nyawa ..berarti ruh dan nyawa adalah sama..yang mebedakan nya adalah lafadh dan pengucapan serta pronounciation nya…ruh adalah kosa kata bahas arab dan nyawa adalah kosa kata bahasa Indonesia..selanjut nya apa bila sama ruh dan nyawa maka …

apa perbedaan antara ruh/nyawa dengan jiwa?

Didalam bahasa arab terdapat dua kosa kata yang sangat berkenaan dengan soal ini.yaitu Ruh dan Annafsu..kata Annafsu hanyalah kata yang dapat kita artikan kedalam bahasa Indonesia dengan JIWA..jadi Annafsu dalam bahasa Arab..sedangkan jiwa dalan bahasa Indonesia. Jadi apa beda nya ruh dan jiwa?
Jawab… ruh dan jiwa pada hakikat nya adalah sama..sebagaimana tersebut didalam ALQuran dan Hadist.. berarti ruh dan jiwa adalah satu..tetapi ada dua nama  ..dinamakan ruh karena dia sangatlah lembut..dan dinamakan Annafsu (jiwa) karena kesangkut pautan nya dengan badan…berarti ruh dan jiwa adalah sama..  
Walaupun ruh dan jiwa mempunya arti yang lain namun arti yg lain itu adalah majaz dan bukan arti sebenarnya..bisa kita lihat perbedaan arti yang majaz dan arti yang sebenanya adalah ketika ibu memasak nasi..memasak nasi..apakah itu arti yang asli..?  jawaban nya bukan..karena yang dia masak adalah beras..arti asli nasi adalah beras yang sudah dimasak disebut nasi..  sementara kita bilang memasak nasi padahal yang kita masak adalah beras…berarti kata nasbi kita katakana kepada beras..disini arti memasak nasi adalah memasak beras..berarti memasak nasi adalah majaz. Dengan cara menamakan sesuatu dengan nama hasilnya..hasil memasak beras adalah nasi…sama dengan memasak nasi.karena hasilnya nasi..ihahhaha

Wallahu a’lam..

Melihat perbedaan mempunya berbagai macam segi..yang pertama melihat perbedaan dari segi kosa katanya…dan pemakain nya seta makna nya..dan selanjutnya adalah melihat pebedaan dari segi bentuk dan jenis nya…
Nyawa ruh dan jiwa ..bentuk nya tidak dapat kita lihat..namun kita bisa melihat ayat dan hadist.yang menggunakan kata kata tersebut.namun setelah kita lihat pemahamannya dari ayat dah hadist tersebut rupanya adalah mempunyai makna yang sama namum kosa kata pemakaian dalam ayat dan hadist tersebut ada perbedaan..yaitu kadang kadang memakai kata ruh.dan kadang kdang memakai kata jiwa..namun tujuan nya adalah sama..
            Setelah itu kita buka kamus..kita lihat pendapat ulama tentang perbedaan nyawa dan jiwa ..eh rupanya yang membedakan kedua nya adalah hanya sebatas lafadh dan keterkaitan nya dengan tubuh..namun ruh dan nyawa serta jiwa adalah..satu makhluk yang dimasukan oleh Allah kedalam tubu manusia…ketika dia kita pisahkan dari tubu dan tidak berhubungan lagi dengan tubu..disebut ruh atau nyawa..ketika masih berada dalam tubuh disebut ruh juga disebut jiwa..disebut ruh Karena kelembutannya.dan disebut jiwa karena keterkaitanya dan salingketerkatian nya antara tubuh dan ruh.maka disebut nyawa…wallahu a’lam..

Sunday, 17 July 2011

Melihat Pahala Saat Sakaratul Maut

Pahala dari apa yang kita perbuat ternyata akan diperlihatkan juga saat sakaratul maut. Begitu juga yang dialami oleh seorang sahabat Rasulullah SAW berikut ini.

Pada suatu saat Nabi Muhammad SAW didatangi oleh istri seorang sahabat yang baru saja meninggal dunia. Ia terlihat gundah gulana dan Rasul pun menanyakan hal apa yang membuat ia bingung.
Dan istri sahabat itu kemudian menceritakan penggalan-penggalan ucapan suaminya saat sakaratul maut.
"Ya Rasul, ia mengucapkan, Seandainya lebih panjang...., Seandainya lebih panjang...Seandainya lebih panjang..., kemudian terdiam.
Tak lama kemudian suamiku berucap lagi, Seandainya yang baru...Seandainya yang baru..., kemudian terdiam lagi. Tak lama berucap lagi, Seandainya semuanya...seandainya semuanya...," jelas wanita itu.


Isyarat amal
"Jangan resah, akan aku jelaskan maksud dari kata-kata suamimu," jawab Rasulullah. Lalu Rasulullah menjelaskan.
Pertama.
Saat suaminya mengatakan seandainya lebih panjang, itu bermula saat suamimu pada suatu subuh sedang berjalan menuju masjid, ia mendapati seorang tua yang buta sedang berjalan tertatih-tatih menuju masjid.

Melihat orang tua yang buta itu hatinya tersentuh, kemudian dengan sabar ia menuntun orang tua itu sampai ke masjid untuk shalat subuh berjamaah. Pahala atau ganjaran dari perbuatan baiknya itu ditampakkan di depan matanya saat ia sakaratul maut.
Karena begitu indahnya ganjaran itu, maka ia berucap,
"Seandainya lebih panjang...seandainya lebih panjang..., maksudnya adalah seandainya lebih panjang lagi ia menuntun orang tua yang buta itu menuju masjid, maka ganjaran yang ia lihat saat sakaratul maut itu tentu lebih indah lagi."

Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan penjelasannya.
Untuk yang kedua, suamimu mengucapkan "seandainya yang baru."
Ia mengucapkan itu karena ia teringat dengan perbuatannya pada suatu haru, ketika ia pulang dari membeli baju di pasar, ia bertemu dengan seorang miskin yang tidak memakai baju.
Melihat hal itu, tersentuhlah hatinya untuk memberikan bajunya.

Maka suamimu itu segera menukar bajunya yang lama dengan yang baru, kemudian bajunya yang lama itu diberikan kepada orang miskin itu. Pahala atau ganjaran dari perbuatan baiknya itu ditampakkan di depan matanya saat sakaratul maut.
Karena begitu indahnya dengan yang dia lihat, ia berucap,"Seandainya yang baru...seandainya yang baru..."

Maksudnya adalah seandainya pakaian yang baru yang ia berikan kepada orang miskin itu, tentu ganjaran yang diperlihatkan padanya saat sakaratul maut tentu akan lebih indah lagi.

Gelisah Hati Istri Sahabat Hilang
Rasul kembali menjelaskan, suatu hari sepulang dari bekerja, suamimu itu merasakan lapar dan dahaga. Lalu ia pun menuju tempat makan dan sesampainya di sana, ia pun telah siap duduk untuk menyantap hidangan makannya.
Saat ia hendak makan, terlihat seorang yang berpakaian lusuh dan wajahnya pun terlihat lesu. Ternyata orang tersebut adalah seorang pengemis yang lapar.

Sebenarnya, suamimu merasakan lapar yang sangat, hanya saja ia merasa iba dengan pengemis itu. Akhirnya dibagi dualah makanan yang hendak ia santap itu bersama si pengemis.


Pahala atau ganjaran dari perbuatan baiknya itu ditampakkan di depan matanya saat ia sakaratul maut. Karena begitu indahnya ganjaran yang ia terima karena membagi dua jatah makanan itu, maka ia berucap," Seandainya semuanya...seandainya semuanya..."
Maksudnya adalah seandainya ia memberikan semua jatah makanannya kepada pengemis itu, tentu ganjaran yang diperlihatkan kepadanya saat sakaratul maut akan lebih indah lagi daripada yang ia dapat.

Setelah mendengar penjelasan panjang dari Nabi Muhammad itu, maka hilanglah kegelisahan hati sang istri sahabat.
Ia bergembira karena ternyata suaminya banyak mendapat kabar gembira saat menghadapi sakaratul maut.

Cerita Imam Ghazali dan muridnya

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya, beliau bertanya :
Imam Ghazali =  Apakah yang palingdekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 = ” Orang tua ”
Murid 2 = ” Guru ”
Murid 3 = ” Teman ”
Murid 4 = ” Kaum kerabat ”
Imam Ghazali =  Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).
Imam Ghazali =  Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?
Murid 1 = ” Negeri Cina ”
Murid 2 = ” Bulan ”
Murid 3 = ” Matahari ”
Murid 4 = ” Bintang-bintang ”
Iman Ghazali =  Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun
kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Iman Ghazali =  Apa yang paling besar didunia ini?
Murid 1 = ” Gunung ”
Murid 2 = ” Matahari ”
Murid 3 = ” Bumi ”
Imam Ghazali =  Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka
kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.
IMAM GHAZALI = Apa yang paling berat didunia?
Murid 1 = ” Baja ”
Murid 2 = ” Besi ”
Murid 3 = ” Gajah ”
Imam Ghazali = Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebu t-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.
Imam Ghazali = Apa yang paling ringan di dunia ini?
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin ”
Murid 3 = ” Debu ”
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali =  Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN
SHOL AT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat.
Imam Ghazali = Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?
Murid- Murid dengan serentak menjawab
= ” Pedang ”
Imam Ghazali =  Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah,
manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Saturday, 16 July 2011

Nikmatnya Nisfu Sya’ban

Hari atau malam pertengahan bulan Syakban (15 Syakban). Nisfu artinya setengah atau seperdua dan Syakban adalah bulan kedelapan dalam perhitungan tahun Hijriyah. Kata Syakban berasal dari kata syi’ab (jalan di atas gunung). Dikatakan Syakban karena pada bulan itu ditemui berbagai jalan untuk mencapai kebaikan.
Malam Nisfu Syakban dimuliakan karena pada malam itu, dua malaikat yakni Raqib dan Atid, yang mencatat amal perbuatan manusia sehari-hari, menyerahkan catatan-catatan amal tersebut kepada Allah SWT. Pada malam itu pula catatan-catatan itu ditukar dengan yang baru. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Bulan Syakban itu bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Ia adalah bulan yang diangkatkan Tuhan amal-amal. Saya ingin diangkatkan amal saya ketika sedang berpuasa.” (HR An-Nasa’i dari Usamah, sahabat Nabi SAW).
Di samping itu, pada malam Nisfu Syakban turun beberapa kebaikan dari Allah SWT untuk hamba-hamba-Nya yang berbuat baik pada malam tersebut. Kebaikan-kebaikan itu berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), pembebasan dari azab dan sebagainya. Dengan demikian, malam Nisfu Syakban antara lain dinamakan juga malam syafaat, malam maghfirah, dan malam pembebasan.
Sehubungan dengan malam Nisfu Syakban yang dinamakan juga malam syafaat, Al-Ghazali mengatakan, “Pada malam ke-13 Syakban, Allah SWT memberikan kepada hamba-hamba-Nya sepertiga syafaat, pada malam ke-14 diberikan-Nya pula dua pertiga syafaat, dan pada malam ke-15 diberikan-Nya syafaat itu penuh. Hanya yang tidak memperoleh syafaat itu ialah orang-orang yang sengaja hendak lari dari pada-Nya sambil berbuat keburukan seperti unta yang lari.”
Malam itu juga disebut malam maghfirah karena pada malam itu Allah SWT menurunkan ampunan-Nya kepada segenap penduduk bumi. Di dalam hadis Rasulullah SAW dijelaskan, “Tatkala datang malam Nisfu Syakban, Allah memberikan ampunan-Nya kepada penghuni bumi, kecuali bagi orang yang syirik dan berpaling pada-Nya.” (HR Ahmad)
Selain itu malam Nisfu Syakban disebut malam pembebasan karena pada malam itu Allah SWT membebaskan manusia dari siksa neraka. Sabda Nabi SAW di dalam hadis yang diriwayatkan Ibn Ishak dari Anas bin Malik, “Wahai Humaira (Asiyah RA) apa yang engkau perbuat pada malam ini? Malam ini adalah malam Nisfu Syakban, di mana Allah memberikan kebebasan dari neraka laksana banyaknya bulu kambing Bani Kalb, kecuali (yang tidak dibebaskan) enam, yaitu; orang yang tidak berhenti minum khamr, orang yang mencerca kedua orangtuanya, orang yang membangun tempat zina, orang yang suka menaikkan harga (secara aniaya), petugas cukai (yang tidak jujur), dan tukang fitnah.” Dalam riwayat lain disebutkan tukang pembuat patung atau gambar sebagai ganti petugas cukai.
Salah satu amal yang biasa dilakukan sebagian orang pada malam Nisfu Sya’ban adalah shalat sunah Nisfu Syakban sebanyak 100 rakaat. Shalat sunah tersebut ditentang keras oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab (Kumpulan Penjelasan tentang Buku Al-Muhazzab). An-Nawawi memandang hadis-hadis yang menerangkan shalat tersebut adalah hadis maudu’ (hadis palsu). Oleh karenanya, melaksanakan shalat tersebut adalah bidah. Apa yang diungkapkan Imam Nawawi diikuti pula oleh Sayid Abu Bakar Syata ad-Dimyati (ahli tasawuf) dalam kitabnya, I’anat At-Talibin (Panduan bagi Siswa).

Sunday, 3 July 2011

BERBOHONG YANG DI BOLEH KAN

بسم الله الرحمن الرحيم
Bolehkah berbohong?
الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحابته ومن اتبع سنته واهتدى بهديه إلى بوم القيامة، أما بعد
Ini adalah sedikit penjelasan untuk sebagian ikhwah yang mendiskusikan tentang berbohong apakah tidak boleh secara mutlak ataukah boleh untuk kasus tertentu?, sebenarnya yang utama adalah kita jangan sampai menolak salah satu dalil shohih yang tsabit dari Rosul صلى الله عليه وسلم karena ketidakfahaman kita untuk mendudukkan dalil-dalil tersebut.

Hadits-hadits shohih pengecualian bolehnya berbohong pada kasus-kasus tertentu
1. Hadits Ummu Kultsum:
عن أم كلثوم بنت عقبة أخبرته : أنها سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ليس الكذاب الذي يصلح بين الناس فينمي خيرا أو يقول خيرا
Artinya:
Dari Ummu Kultsum binti Uqbah mengkhabarkan bahwa dia mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan antara manusia (yang bertikai) kemudian dia melebih-lebihkan kebaikan atau berkata baik”. [Muttafaqun 'Alaih]
Di dalam riwayat Al Imam Muslim ada tambahan:
ولم أسمع يرخص في شيء مما يقول الناس كذب إلا في ثلاث الحرب والإصلاح بين الناس وحديث الرجل امرأته وحديث المرأة زوجها
Artinya:
“Dan aku (Ummu Kultsum) tidak mendengar bahwa beliau memberikan rukhsoh (keringanan) dari dusta yang dikatakan oleh manusia kecuali dalam perang, mendamaikan antara manusia, pembicaraan seorang suami pada istrinya dan pembicaraan istri pada suaminya”.
[Dinukil dari Riyadhush Sholihin, Bab. Al Ishlah bainan naas]
Hadits Ummu Kultsum ini diriwayatkan juga oleh At Tirmidzi (no.2063, Maktabah Asy Syamilah) dan beliau katakan, ‘Ini adalah Hadits Hasan Shohih’. Dan Abu Dawud (no.4920, Baitul Afkaar Ad Dauliyah)
2. Hadits Asma’ binti Yazid diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya yang redaksinya hampir sama dengan hadits Ummu Kultsum yaitu:
عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِى الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ ». وَقَالَ مَحْمُودٌ فِى حَدِيثِهِ « لاَ يَصْلُحُ الْكَذِبُ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ لاَ نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَسْمَاءَ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ خُثَيْمٍ
Artinya:
Dari Asma’ binti Yazid dia berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bohong itu tidak halal kecuali dalam tiga hal (yaitu) suami pada istrinya agar mendapat ridho istrinya, bohong dalam perang, dan bohong untuk mendamaikan diantara manusia”.
Mahmud berkata dalam haditsnya: “Tidak boleh berbohong kecuali dalam tiga hal”.
Abu ‘Isa (At Tirmidzi) berkata, ‘Ini hadits hasan, kami tidak mengetahuinya dari hadits Asma’ kecuali dari hadits Ibnu Khutsaim’. [Sunan At Tirmidzi (2064) 7/408, Maktabah Asy Syamilah]
Musykil:
Apakah hadits-hadits diatas bertentangan dengan ayat-ayat Qur’an dan hadits-hadits yang shohih yang lain yang memerintahkan untuk jujur dan melarang untuk berbohong?
Misalnya, Alloh تعالى berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. [At Taubah:119]
Atau sabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم :
عن عبدالله قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم عليكم بالصدق فإن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة وما يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا وإياكم والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا
Artinya:
Dari Abdulloh dia berkata, Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Wajib atas kalian untuk jujur, sesungguhnya kejujuran itu akan membimbing kalian menuju ke kebajikan, dan kebajikan akan membimbing menuju surga, dan tidaklah seorang laki-laki itu jujur dan berusaha untuk jujur maka dia akan dicatat di sisi Alloh sebagai siddiiq. Hati-hati kalian dari bohong karena sesungguhnya bohong itu membimbing menuju kefajiran dan kefajiran membimbing menuju ke neraka, dan tidaklah seseorang itu berbohong dan berusaha untuk berbohong maka akan dicatat di sisi Alloh sebagai pembohong”. [HR. Muslim 105-(2607), At Tirmidzi 2099, Ibnu Majah 3981, Malik 3627, Ahmad 3710, Ibnu Hibban 509, Al Baihaqi 21338, dan lain-lain, Maktabah Asy Syamilah]

Jawaban:
Kalau kita perhatikan antara ayat-ayat Qur’an dan hadits-hadits diatas sebenarya tidak ada pertentangan. Karena memang selamanya ayat-ayat al Qur’an dan hadits-hadits yang shohih tidak akan bertentangan, kalaupun kita sangka ada pertentangan maka para ulama telah menentukan beberapa metode dalam mendudukannya, yaitu:
1. Jika dimungkinkan maka dilakukan thoriqotul jam’i yaitu menyatukan/ mengkompromikan dalil-dalil yang shohih tersebut.
2. Mengetahui nasikh dan mansukh, yaitu dalil yang datang belakangan adalah nasikh(penghapus) untuk dalil yang datang sebelumnya (ini disebut mansukh). Metode ini harus dilakukan dengan kajian sejarah.
3. Dengan tarjih yaitu menetapkan mana yang rojih(yang kuat) dan mana yang marjuh(lemah).
4. Tawaquf yaitu diam tidak berkomentar.
Dalam kaitan dengan masalah ini maka kita dapat memilih metode yang pertama yaitu menyatukan dan mengkompromikan semua dalil, karena metode ini adalah metode yang didahulukan oleh para ulama agar tidak satupun dalil yang ditolak. Ingat menolak satu hadits yang telah tetap shohihnya diantara hadits-hadits Rosul صلى الله عليه وسلم adalah sama dengan menolak sunnah atau menolak syari’at yang dibawa oleh Rosul صلى الله عليه وسلم , dan ini adalah berbahaya. Kecuali apabila hadits tersebut dho’if atau maudhu’ maka kita tidak memakai hadits yang dho’if atau maudhu’ tersebut, atau telah jelas adanya nasikh dan mansukh.
Ayat diatas surat At Taubah:119 adalah perintah untuk jujur, ini juga berarti larangan untuk berbohong. Dan hadits Abdulloh bin Mas’ud juga menerangkan perintah jujur dan larangan berbohong. Ini adalah hukum asalnya. Yaitu saya tegaskan bahwa hukum asal berbohong adalah harom dan tidak boleh seorang muslim berbohong.
Sedangkan hadits Ummu Kultsum dan hadits Asma’ adalah pengecualian untuk kasus tertentu dan tidak boleh dimutlakkan dan diperlebar jangkauannya.
Baiklah, kita nukilkan penjelasan Al Imam An Nawawi رحمه الله ketika mensyarah hadits Ummu Kultsum:
Al Qodhi (Iyadh) berkata, ‘Tidak ada perbedaan dalam bolehnya berbohong dalam bentuk seperti ini, dan mereka berbeda pendapat tentang apa maksud berbohong yang mubah di dalamnya, apakah itu?
Segolongan ulama mengatakan: Itu sesuai dengan kemutlakannya dan mereka membolehkan perkataan yang tidak terdapat dalam keadaan-keadaan ini dengan alasan untuk kemaslahatan, dan mereka mengatakan, bohong yang tercela adalah yang terdapat di dalamnya kemadhorotan, mereka berhujjah dengan perkataan Ibrohimعليه السلام , “Sebenarnya patung yang besar Itulah yang melakukannya” [Al Ambiyaa':63], (lalu perkataanya) “Sesungguhnya aku sakit” [Ash Shofaat:89] dan perkataannya “Sesungguhnya dia adalah saudariku”.
Juga perkataan orang yang menyeru Yusuf عليه السلام , “Hai kafilah, Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri”.[Yusuf:70]
Meraka mengatakan, tidak ada khilaf bahwa jika ada seorang dzolim akan membunuh seseorang yang bersembunyi di sisinya, maka (orang yang melindungi) wajib untuk berbohong dan mengatakan dia tidak mengetahui dimana orang tersebut.
Ulama yang lain berpendapat, diantara mereka Ath Thobari, ‘Pada asalnya tidak boleh berbohong dalam sesuatupun, adapun adanya pembolehan untuk berbohong maka maksudnya adalah tauriyah, menggunakan ungkapan-ungkapan (diplomatis), dan tidak terang-terangan berbohong, misalnya memuji istrinya, berbuat baik padanya, dan akan memberikan padanya pakaian yang demikan, jika Alloh mentaqdirkannya. Walhasil hendaklah menggunakan kalimat-kalimat yang muhtamalah (yang mempunyai beberapa maksud pent.), orang yang diajak bicara akan memahaminya dengan sesuatu yang menentramkan hatinya. Jika berusaha untuk mendamaikan diantara manusia maka menukil dari satu fihak kepada fihak yang lain dengan perkataan yang baik, demikian juga sebaliknya dari fihak yang ini kepada fihak yang lain. Begitu juga dalam perang dengan mengatakan, ‘Pemimpin besar kalian telah mati’, diniyatkan untuk pemimpin mereka yang pada zaman terdahulu. Para ulama yang berpendapat demikian menta’wilkan kisah Ibrohim, Yusuf, dan yang semisalnya adalah kalimat-kalimat diplomatis, wallohu a’lam. Adapun berbohongnya suami pada istrinya dan juga sebaliknya maka maksudnya adalah menampakkan kasihsayang, janji yang tidak mengharuskan terlaksana, dan yang seperti itu, adapun tipu muslihat untuk mencegah kewajiban suami atau istri, atau mengakui apa yang tidak dimiliki oleh suami atau istri maka ini adalah harom menurut kesepakatan kaum muslimin. Wallohu a’lam.








FAEDAH MULAZAMAH DENGAN ALQUR -AN

1.  ketahuilah bahwa ketika anda membawa Alqur-an sesungguhnya syaitan menderita sakit kepala yang sangat dahsyat
2.  ketika anda membuka Alqur-an sesungguh nya syaitan roboh dan pitam
3.  ketika anda membaca Alqur-an sesungguhnya membuat syaitan selalu pitam dan pusing bahkan lebih lama lagi pitam nya .
4.  ketahuilah bahwa mendengar bacaan Alqur-an mengurangi menyebarnya sel-sel kanker didalam tubuh manusia dan bahkan menghancurkan sel sel tersebut
5.  dan sesungguhnya melamakan bersujud dapat menguatkan ingatan dan dan menjauhkan penyakit stroke
6.  dan bahwa mengangkat telunjuk ketika tasyahhud pada saat membaca dua kalimat syahadat dapat melancarkan peredaran darah dan membantu menguatkan jantung.

FAEDAH BERSELAWAT KEPADA RASULULLAH SAW

Rasulullah bersabda :

1. barang siapa yang berselawat kepada ku dalam sehari seribu kali niscaya tidak akan dia mati sebelum dia     mendapat berita masuk syurga. 
2. barang siapa berselawat kepada ku dalam sehari seratus kali niscaya akan di tunaikan bagi nya 100 keperluan oleh Allah SWT; 70 diantaranya adalah untuk akhirat dia dan 30 untuk dunia dia.
3. barang siapa berselawat kepadaku 10 kali di pagi hari dan 10 kali pada siang hari , sungguh dia akan mendapatkan syafa'at ku pada hari kiamat.
3. barang siapa yang berselawat kepada ku satu kali maka Allah akan membalas kepadanya dengan 10 selawat dan Allah hapuskan 10 kesalahannya (dosa) dan Allah mengangkat dia 10 derajah.
4. tidak seorang pun yang berselawat kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruhku sehingga aku balas kepadanya..
5. sesungguh nya manusia yang paling utama bersamaku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak berselawat kepadaku...


semoga kita termasuk di antara orang orang yang rajib berselawat kepada Nabi..









 
Free Web Hosting